Konveksi Sablon Bekasi

Merawat semangat Industri pakaian (Konveksi dan Sablon) di Kuartal III – IV tahun 2021

Semesta ini tercipta dari kisah dan semangat, Bukan dari pukulan atom. Pun begitu pada industri tekstil dan pakaian jadi (Konveksi sablon) yang mengalami kontraksi telak pada kuartal II dan (mulai) terselip harapan pada kuartal III – IV tahun 2021.

Sekadar informasi, jika industri tekstil dan pakaian jadi (konveksi dan sablon) merupakan posisi terendah kedua yang mengalami tekanan  pertumbuhan hingga minus 4,54 persen sejak 17 bulan setelah hadirnyanya pandemic. Khususnya “pukulan” telak ketika diberlakukannya kebijakan PPKM.

Ironis. Itulah fakta yang tercermin hari ini pada industry tekstil dan pakaian jadi (Konveksi dan sablon). Pasalnya, industri padat karya ini telah menjadi industri unggulan yang memberikan dampak positif pada perekonomian nasional dari sisi industri pengolahan. Bayangkan, hingga triwulan II 2021, hampir seperlima (19,29 persen) PDB nasional disumbang oleh industri pengolahan.

Bahkan pada peta jalan tersebut disusun demi mencapai cita-cita Indonesia menjadi 10 kekuatan terbesar di dunia berdasarkan PDB pada 2030. Menariknya,  Industri tekstil dan pakaian (Konveksi dan sablon) menjadi salah satu industri unggulan yang diprioritaskan, bersama dengan empat industri lainnya yaitu makanan dan minuman, otomotif, kimia, dan elektronik.

Dari data Litbang Kompas,  industri tekstil dan pakaian jadi menyumbang 6,41 persen pada industri pengolahan non migas pada 2018. Kontribusinya meningkat tajam pada 2019 menjadi 7,41 persen pada tahun berikutnya. Sedangkan ketika memasuki awal 2019, industri tekstil dan pakaian jadi mengalami pertumbuhan positif tertinggi dibandingkan industri lainnya, yakni sebesar 18,98 persen.

Tak sampai disitu, geliat industri tekstil dan pakaian jadi (Konveksi dan sablon) semakin meningkat sepanjang 2019 hingga 15,35 persen yaitu tiga kali lipat pertumbuhan PDB nasional.

Dampak Pandemi

Tahun 2020, hampir semua sektor industri terengah-engah akibat dampak pandemi covid-19. Imbasnya pada triwulan I 2020, industri tekstil dan pakaian jadi (Konveksi dan sablon) mengalami kontraksi sebesar minus 1,24 persen hingga pada kuarta II,III, dan IV tahun 2020 semakin terkapar pertumbuhannya menjadi 14,23 persen. Hal ini juga tak lepas dari lesunya perekonomian global, sebab industri tekstil dan pakaian berorientasi pada ekspor.

Sedangkan pada tahun 2021, sesungguhnya industri tekstil dan pakaian jadi (Konveksi dan sablon) juga masih menjadi anomali pasar yang terperangkap pada moment idul fitri namun tak diikuti dengan permintaan akan produk pakaian.

Melemahnya kinerja industri tekstil dan pakaian jadi juga tecermin dari nilai prompt manufacturing index yang disusun oleh Bank Indonesia. Indeks PMI-BI yang menggambarkan kinerja sektor industri pengolahan itu menunjukkan bahwa kinerja industri tekstil dan pakaian jadi berada pada fase kontraksi, yakni 48,36 persen. Padahal, industri pengolahan secara keseluruhan berada fase ekspansi dengan nilai indeks sebesar 51,45 persen.

Distribusi industri tekstil dan pakaian jadi pun juga menurun selama masa pandemi. Setelah mampu berkontribusi lebih dari tujuh persen pada 2019, kontribusinya turun menjadi 6,75 persen pada 2020, dan semakin menurun menjadi 6,02 persen pada triwulan II 2021.

Konveksi Sablon Bekasi

Industri padat karya

Efek kontraksi yang terus menerus patut dicermati karena industri tekstil dan pakaian jadi (Konveksi dan sablon) adalah industry padat karya. Seperti data dari BPS, hampir seperlima dari total tenaga kerja industri pengolahan ada pada industri tekstil dan pakaian jadi, yakni 18,80 persen. Jumlah tersebut membawa industri tekstil dan pakaian jadi menyumbang tenaga kerja terbanyak kedua setelah industri makanan dan minuman (29,23 persen).

Secara lebih rinci, pada 2018 terdapat 629.298 pekerja industri tekstil pada industri besar dan sedang. Sementara, industri pakaian jadi mempekerjakan 763.314 orang tenaga kerja. Tak hanya itu, terdapat juga 406.103 pekerja tekstil dan 1.081.978 pekerja pakaian jadi pada skala industri mikro kecil di tahun yang sama.

Artinya, ada lebih dari 2,8 juta tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya di industri tekstil dan pakaian jadi. Dengan demikian, terganggunya kinerja industri tersebut akan berpengaruh pada kemampuan bertaham hidup jutaan rumah tangga.

Melihat kondisi diatas, sudah sepatutnya kita sebagai pelaku usaha pakaian jadi (Konveksi dan sablon) kerap merawat asa diatas semangat mejaga harapan jika pada kuarta III-IV tahun 2021 akan terjadi keajaiban yaitu kenaikan presentase partumbuhan yang drastis permintaan produk pakaian jadi.

Semoga kita semua sehat, kuat dan tetap merawat semangat……

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Open chat
Butuh Bantuan?
Halo, ada yang bisa dibantu?