Konveksi Murah di Bekasi

Strategi Bisnis Konveksi & Sablon Pasca COVID 19

Tunas Garment Sejahtera Dua bulan sudah beberapa pelaku bisnis UKM diterjang pandemic Covid 19, khususnya pegiat konveksi dan sablon. Sebagian pelaku bisnis konveksi dan sablon memutar otak untuk melakukan perubahan keuangannya secara mendadak. Arus kas keuangan yang macet menjadi salah satu kendala yang tidak bisa dihindarkan. Eksistensi bisnis goyang, karyawan dirumahkan, produksi dipastikan gagal panen.

Disatu sisi, kebingungan lainnya bagi pegiat konveksi dan sablon selain memikirkan cost produksi yang terus dikeluarkan, justru stock bahan tak juga bisa dicari. Pasalnya, hampir 70 persen supplier bahan tutup akibat merebaknya virus covid 19. Pun jika ada supplier bahan yang buka, harga melambung tinggi. Tak ayal, pelaku bisnis konveksi dan sablon kewalahan dengan kondisi saat ini.

Benar, fakta diatas menjadi kenyataan yang tak bisa dihindarkan oleh pelaku bisnis sehingga di titik nadir ini arus kas menjadi hal terpenting sebagai benteng sebuah bisnis. Pasalnya, segala strategi yang dijalankan dan langkah yang diambil selama masa sulit ini mesti berdasar pada arus kas (perputaran uang) perusahaan. Lalu bagaimana cara bisnis UKM menjaga kestabilan cash flow selama pandemi COVID-19?

Pertama, hemat biaya produksi. Ditengah masa sulit seperti ini, “hemat” menjadi senjata ampuh. Bagaimana bisa memaksimalkan kualitas produksi dengan anggaran produksi yang terbatas sehingga profit dari suatu order dapat maksimal.

Kedua, Menekan biaya pengeluaran. Percaya deh, semua omset order yang kita terima itu sejatinya bukan milik kita pribadi. Sehingga kita bisa membagi semua cost pengeluaran dengan seadil-adilnya bukan sebaik-baiknya. Salah satunya, menekan hasrat konsumsi untuk hal-hal yang tidak perlu dilakukan ditengah resesi ekonomi saat ini.

Ketiga, menekan laju ekspansi bisnis. Benar, siapa yang tidak mau melebarkan sayap bisnisnya. Namun, dalam kondisi rapuhnya pasar hari ini kesabaran menjadi kunci. Karena kemungkinan resesi ekonomi di prediksi akan sampa mei 2021. Jadi persiapkan kemungkinan terburuk yang terjadi di tingkatan pasar.

Keempat, dahulukan kebutuhan dari keinginan. Seperti yang dibilang Iwan Fals, bahwa keinginan merupakan sumber penderitaan. Di sisi ini pelaku bisnis mesti bisa memilah antara kebutuhan dan keinginan perusahaan. Jika kebutuhan market mengharuskan menambah aset produksi, maka yang dilakukan adalah membeli aset produksi bukan memperbanyak stock barang sesuai keinginan pasar dengan aset produksi yang terbatas.

Kelima, menabung aset dan uang. Ini kategori tersulit dalam hal bisnis. Tak ada bisnis yang bisa beranjak besar tanpa tersimpannya uang kas bisnis secara sehat. Karena dari uang kas tersebut proses produksi bisa tetap berjalan meski disituasi ekonomi sulit seperti ini. Semoga sekilas materi ini bisa menjadi pemantik kita sebagai pelaku bisnis konveksi dan sablon untuk terus melaju ditingkat lokal dan global.

Open chat
Butuh Bantuan?
Halo, ada yang bisa dibantu?